Proses Mencapai
Keimanan Sempurna
Uqdatul Kubro
Disaat manusia mulai beranjak dewasa, yang ditandai oleh
kesempurnaan akalnya, maka semenjak itu ia mulai berpikir tentang
'keberadaan'-nya di dunia ini. Ia mulai berpikir tentang beberapa pertanyaan
mendasar yang sangat perlu, bahkan harus, ia jawab. Jawaban tersebut haruslah
jawaban yang memuaskan akal dan menenangkan jiwanya karena jawaban itu pula
yang akan menjadi landasan kehidupan pada masa-masa selanjutnya. Maka, selama
masalah ini belum terjawab, selama itu pula manusia tidak akan berjalan di
dunia dengan tenang. Tanpa jawaban tersebut, ia ibarat manusia tersesat tanpa
tujuan yang jelas. Karena sifatnya yang demikian, beberapa pertanyaan pokok dan
mendasar ini sering disebut sebagai uqdatul
kobro (masalah/ simpul yang sangat besar).
Pertanyaan mendasar tersebut berupa pertanyaan "dari manakah asal manusia dan
kehidupan ini?", "mau kemana manusia dan kehidupan setelah
ini?" dan "untuk apa manusia dan kehidupan ini
ada?" Bila pertanyaan ini terjawab, --terlepas dari jawabannya benar atau salah--
maka seseorang akan memiliki landasan kehidupan sekaligus tuntunan dan tujuan
kehidupannya itu sendiri. Selanjutnya berjalanlah ia di dunia ini dengan
landasan/dasar tersebut; ia berbuat dengan standar dan nilai yang berdasarkan
landasan tersebut. Berekonomi dan berbudaya berdasar landasan tersebut, bahkan
ia akan mengajak orang/kaum lain agar mengikuti landasan tersebut.
Sebenarnya, jawaban tersebut sekaligus menjadi pemahaman
(mafaahim) orang/ kaum tersebut
terhadap kehidupan ini. Seseorang atau suatu kaum yang menyelesaikan uqdatul kubro tersebut dengan jawaban: “kehidupan dunia ini ada dengan sendirinya, manusia berasal dari tanah/
materi dan kelak akan kembali lagi menjadi materi/ benda, sehingga manusia
hidup untuk mencari kebahagiaan materi selama ia mampu hidup"; maka
mereka akan hidup dengan aturan yang dibuatnya sendiri, dengan standar
baik-buruk yang ia kehendaki. Mereka akan berbudaya, berekonomi dan berpolitik
untuk mencapai kebahagiaan material, selama mereka mampu hidup. Orang dan kaum
seperti ini tidak meyakini adanya hal ghaib (ruh, akhirat, pahala-dosa dsb),
diluar materi.
Sementara itu seseorang
atau suatu kaum yang menjawab: "dibalik
alam dan kehidupan ini ada Sang Pencipta, yang mengadakan seluruh alam,
termasuk dirinya, memberi tugas/ amanah kehidupan pada manusia dan kelak ada
kehidupan lain setelah dunia ini, yang akan menghisab seluruh perbuatannya di
dunia"; maka mereka akan hidup, berekonomi, berbudaya, berpolitik dan
berinteraksi dengan kaum lain, berdasarkan aturan Sang Pencipta tersebut.
Standar baik-buruk berdasar aturan Sang Pencipta, dan sekaligus menjadi standar
amal yang harus dipertanggungjawabkannya di hadapan Sang Pencipta.
Demikian gambaran ringkas tentang landasan kehidupan
seseorang/ suatu kaum, yang sekaligus merupakan jawaban uqdatul kubro manusia.
Hanya saja gambaran tersebut belum menjelaskan tentang landasan kehidupan mana
yang benar dan mana yang salah.
Pemecahan Shohih 'Uqdatul kubro
Dengan berbagai upaya, manusia mencoba mencari jawaban
tersebut melalui segala hal yang dapat dijangkau akalnya. Karena segala hal
yang dapat dijangkau akal manusia, tidak lepas dari alam semesta (al kaun), manusia (al insaan) dan kehidupan (al
hayaat), maka ketiga hal inilah yang dijadikan obyek/media berpikir untuk
mencari jawaban yang dimaksud.
Pemecahan yang benar terhadap masalah ini tidak akan
terbentuk kecuali dengan pemikiran yang jernih dan menyeluruh tentang alam
semesta (al-kaun), manusia (al-insaan) dan kehidupan (al-hayaat), serta
hubungan ketiganya dengan kehidupan sebelum dan sesudah kehidupan dunia ini.
Islam telah memberi jawaban melalui proses berpikir yang jernih. Jawaban
tersebut memuaskan/ sesuai dengan akal, menentramkan jiwa dan sesuai dengan
fitrah manusia.
Karenanya, Islam memberi jawaban tuntas yang
shohih/benar, yang lahir dari proses berpikir jernih dan menyeluruh. Islam
menjawab bahwa dibalik alam semesta, manusia dan kehidupan ada Al-Kholiq (Sang
Pencipta), yang mengadakan semua itu dari tidak ada menjadi ada. Al-Kholiq itu
bersifat Wajibul wujud (wajib/pasti adanya) --karena kalau tidak demikian maka
ia tidak mampu menjadi Al-Khaliq--. Ia pun bukan makhluk karena sifatnya
sebagai Pencipta memastikan bahwa diri-Nya bukanlah makhluk.
Bukti bahwa segala sesuatu itu mengharuskan adanya
Pencipta yang menciptakannya dapat
diterangkan sebagai berikut. Bahwasanya segala sesuatu yang dapat dijangkau
oleh akal terbagi dalam tiga unsur, yaitu manusia, alam semesta, dan kehidupan.
Ketiga unsur ini bersifat terbatas dan bersifat lemah (tidak dapat berbuat
sesuatu dengan dirinya sendiri-red.), serba kurang dan saling membutuhkan
kepada yang lain. Misalnya manusia, ia terbatas sifatnya karena tumbuh dan
berkembang tergantung terhadap segala sesuatu yang lain, sampai suatu batas
yang tidak dapat dilampauinya lagi. Oleh karena itu jelas ia bersifat terbatas,
mulai dari 'ketiadaannya' sampai batas waktu yang tidak bisa dilampauinya.
Begitu pula halnya dengan kehidupan (nyawa-red.), ia bersifat terbatas pula, sebab
penampakan/ perwujudannya bersifat individual semata. Dan apa yang kita
saksikan selalu menunjukkan bahwa kehidupan itu ada lalu berhenti pada satu
individu itu saja. Jadi jelas kehidupan itu bersifat terbatas. Demikian pula
halnya dengan alam semesta. Ia pun bersifat terbatas. Sebab alam semesta itu
hanyalah merupakan himpunan benda-benda di bumi dan angkasa dimana setiap benda
tersebut memang bersifat terbatas. Himpunan dari benda-benda terbatas dengan
sendirinya terbatas pula sifatnya. Jadi alam semesta itupun bersifat terbatas.
Kini jelaslah bahwa manusia, kehidupan, dan alam semesta, ketiganya bersifat
terbatas (termasuk memiliki batas awal dan akhir keberadaannya).
Apabila kita melihat kepada segala hal yang bersifat
terbatas, akan didapati bahwa segala
hal tersebut tidak azali ( azaliy = tidak berawal dan berakhir). Sebab apabila ia
azali, bagaimana mungkin ia bersifat terbatas? Tidak boleh tidak, keberadaan
semua yang terbatas ini membutuhkan adanya pencipta yang mengadakannya, atau
mewajibkan adanya 'sesuatu yang lain'.
Dan 'sesuatu yang lain' inilah Al-Khaliq, yang menciptakan manusia,
kehidupan dan alam semesta.
Dalam menentukan sifat Al-Khaliq/ Pencipta ini dapat kita
temukan adanya tiga kemungkinan. Pertama,
Ia diciptakan oleh yang lain. Kedua,
Ia menciptakan diri-Nya sendiri. Ketiga,
Ia bersifat azali dan wajibul wujud dan mutlak keberadaannya. Dengan pemikiran
aqliyah yang jernih dan mendalam, akan dipahami bahwa: kemungkinan pertama yang
mengatakan bahwasanya Ia diciptakan oleh yang lain adalah kemungkinan yang
bathil (tidak dapat diterima oleh akal). Sebab dengan demikian Ia adalah mahluk
dan bersifat terbatas, yaitu butuh kepada yang lain untuk mengadakannya.
Demikian pula kemungkinan kedua yang menyatakan bahwasanya Ia menciptakan
diri-Nya sendiri adalah kemungkinan yang bathil juga. Karena dengan demikian Ia
akan menjadi makhluk dan Khaliq pada saat yang bersamaan. Jelas ini tidak dapat
diterima oleh akal. Maka dari itu, hanya kemungkinan yang ketiga-lah yang
shohih, yakni Al-Khaliq itu tidak boleh
tidak harus bersifat azali dan wajibul
wujud serta mutlak adanya. Dialah Allah SWT.
Sesungguhnya bagi setiap orang yang mempunyai akal, hanya
dengan perantaraan wujud benda-benda yang dapat diinderanya, ia dapat memahami
bahwa dibalik benda-benda itu terdapat Pencipta yang telah menciptakannya.
Sebab dapat disaksikan bahwa semua benda-benda tadi bersifat serba kurang,
sangat lemah, dan saling membutuhkan kepada yang lain. Yakinlah bahwa semuanya
hanyalah makhluk. Oleh karena itu untuk membuktikan adanya Khaliq yang Maha
Pengatur, sebenarnya cukup hanya dengan mengamati segala sesuatu yang ada di
alam semesta, kehidupan, dan di dalam diri manusia itu sendiri.
Dengan mengamati salah
satu planet yang ada di alam semesta, misal saja Bumi, akan kita dapati betapa
teraturnya gerak bumi dan segala kejadian di dalamnya. Jarak bumi dengan
matahari yang sangat 'pas' menyebabkan bumi bisa menjadi tempat kehidupan
manusia. Andai bumi lebih dekat kepada matahari beberapa puluh kilometer saja
suhu bumi akan sangat panas yang menghancurkan kehidupan. Begitu pula andai
jarak bumi lebih jauh beberapa puluh kilometer dari matahari, tentu suhu di
bumi akan sangat dingin membekukan segala kehidupan yang ada. Dengan metode
yang sama kita pun dapat merenungi salah satu gejala kehidupan, atau
menyelami salah satu segi di dalam diri manusia, akan memberikan bukti yang
nyata terhadap adanya Allah SWT, Sang Pencipta
dan Pengatur.
Karena itu kita jumpai bahwa Al-Qur'an senantiasa
melontarkan pandangannya kepada benda-benda yang ada di sekitar manusia sambil
mengajak manusia untuk turut mengamatinya serta mengamati segala apa yang ada
di sekelilingnya dan apa yang berhubungan dengannya, agar dapat membuktikan
adanya Allah SWT. Sebab dengan mengamati benda-benda akan memberikan suatu
pemahaman yang menyakinkan manusia terhadap adanya Allah Yang Maha Pencipta
lagi Maha Pengatur secara pasti tanpa ada keraguan. Di dalam Al-Qur'an telah
dibeberkan banyak ayat yang berkenaan dengan hal ini, antara lain firman Allah :
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang yang
berakal" (QS Ali Imran 190)
Juga Firman-Nya :
"(Dan) Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
diciptakannya langit dan bumi serta berlain-lainnya bahasa dan warna
kulitmu" (QS Ar-Rum 22).
Serta firman-Nya yang
lain seperti QS. Al-Ghasiyah : 17-20, juga QS. Ath-Thariq: 5-7, atau juga
firman-Nya berikut :
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih
bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang
berguna bagi manusia dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu
dengan air itu Ia hidupkan bumi sesudah matinya (kering) dan Ia sebarkan di
bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran air dan awan yang dikendalikan antar
lagit dan bumi. Sesungguhnya pada semua itu terdapat tanda-tanda (Keesaan dan
Kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan"
(QS Al-Baqarah 164).
Ditambah lagi dengan ayat-ayat lain yang serupa, yang
mengajak manusia untuk memperhatikan dengan seksama terhadap benda-benda alam,
serta melihat apa yang ada disekelilingnya dan yang berhubungan dengannya (dari
segi keberadaannya-pen) untuk dijadikan petunjuk atas adanya Pencipta yang Maha
Pengatur. Sehingga dengan demikian imannya kepada Allah SWT menjadi iman yang
mantap, yang berakar dari akal dan bukti.
Inilah jawaban shohih secara ringkas tentang keberadaan
Al-Khaliq dibalik manusia, alam semesta dan kehidupan.
Sifat Fitri Keimanan
Memang benar, bahwa iman kepada Yang Maha Pengatur ini
merupakan suatu hal yang fithri dalam diri setiap manusia. Akan tetapi iman
yang fithri ini hanya muncul dari perasaan hati yang ikhlas belaka. Dan proses
semacam ini tidak bisa dianggap aman akibatnya serta tidak akan membawa sesuatu
ketetapan/keyakinan apabila ditinggalkan (tanpa dikaitkan dengan akal-red.).
Sebab perasaan hati semacam ini sering menambah-nambah terhadap apa yang
diimani dengan sesuatu yang realistis. Bahkan mengkhayalkannya dengan
sifat-sifat tertentu yang lazim terhadap apa yang ia imani sehingga dapat
menjerumuskan ke arah kekufuran dan kesesatan. Penyembahan berhala, khurafat
(cerita bohong) dan kebatilan, tak lain
akibat salahnya perasaan hati. Maka dari itu Islam tidak membiarkan perasaan
hati ini sebagai satu-satunya jalan menuju iman. Hal seperti ini tidak akan
menambah-nambah atas Dzat Allah dengan sifat-sifat yang bertentangan dengan
sifat-sifat Ketuhanan, atau menghayalkan penjelmaan-Nya dalam benda-benda, atau
juga menggambarkan suatu kemungkinan untuk mendekatkan diri kepada-Nya melalui
penyembahan benda-benda yang dapat menjurus ke kekufuran atau penyekutuan
terhadap Allah, atau ke arah dugaan yang salah dan khurafat yang senantiasa
ditolak oleh iman yang lurus. Oleh karena itu Islam menegaskan penggunaan akal
ber-sama-sama dengan perasaan hati dan mewajibkan atas setiap muslim untuk
menggunakan akalnya dalam beriman kepada Allah SWT serta melarang bertaklid dalam urusan aqidah. Untuk
ini Islam telah menjadikan akal sebagai timbangan dalam beriman kepada Allah.
Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
berakal" (QS Ali Imran 190)
Oleh karena itu maka wajib bagi setiap muslim untuk
menjadikan imannya betul-betul timbul dari proses berfikir, penelitian, dan
memperhatikan serta bertahkim pada akalnya dalam beriman kepada Allah SWT
secara mutlak. Dan ajakan untuk memperhatikan alam semesta dengan seksama dalam
rangka mencari sunnatullah serta guna memperoleh petunjuk untuk beriman
terhadap Penciptanya. Al-Qur'an telah menyebut hal tersebut dalam puluhan
ayatnya. Semua ini ditujukan terhadap unsur-unsur pemikiran yang dimiliki
manusia agar dapat mengajaknya untuk berfikir serta merenung sehingga imannya
betul-betul muncul dari akal dan bukti. Hal ini juga memperingatkan manusia untuk tidak mengambil
jalan yang telah ditempuh oleh nenek moyangnya yang telah merasa puas terhadap
apa yang telah mereka temui tanpa meneliti dan mengujinya lagi untuk mengetahui
kebenaranya.
Inilah iman yang telah diserukan oleh Islam. Dan iman
semacam ini bukanlah seperti yang dikatakan orang sebagai imannya orang-orang
yang lemah melainkan inilah iman yang jernih, yang menyakinkan, yang senantiasa
memandang dan berfikir lalu sampai kepada yakin akan adanya Allah Yang
Mahakuasa lewat pengamatan dan perenungannya tersebut.
Batas Akal Dalam Memahami Al-Khaliq
Kendati wajib atas manusia untuk menggunakan akalnya
dalam beriman kepada Allah SWT, namun tidak mungkin baginya untuk memahami apa
yang ada diluar jangkauan indra dan akalnya. Hal ini karena akal manusia
terbatas sifat dan kekuatannya. Betapapun tinggi tingkatannya tetap saja ia
terbatas dan tumbuh dalam batas-batas yang tidak dapat dilampauinya lagi. Karena
itu pemahamannya pun terbatas.
Oleh karenanya, akal tidak mampu untuk memahami Dzat
Allah dan hakekatNya, sebab Allah berada diluar ketiga unsur pokok alami yang
dapat diindera manusia (alam semesta, manusia dan kehidupan). Akal manusia itu
sendiri tidak mampu untuk memahami apa yang ada dibalik dirinya, maka tentu
saja ia tidak mampu untuk mencapai Dzat Allah. Hanya saja tidak dapat
dikatakan: "Bagaimana mungkin orang
dapat beriman kepada adanya Allah SWT, sedang akalnya sendiri tidak mampu
memahami Dzat Allah?" Tidak,
tidak bisa dikatakan demikian, sebab
pada hakekatnya iman itu adalah percaya akan adanya (wujud/keberadaan-Nya) Allah, dimana
wujud Allah ini dapat dipahami melalui wujud makhluk-makhluk-Nya, yaitu alam
semesta, manusia dan kehidupan. Ketiganya ini berada dalam batas-batas yang
dapat dicapai oleh akal.
Dengan memahami ketiga hal itu, orang dapat memahami
adanya Khaliq, yaitu Allah SWT. Karenanya, iman kepada adanya Allah harus
berdasarkan akal dan dalam jangkauan akal. Berlainan halnya jika orang hendak
memahami Dzat Allah dimana hal ini mustahil terjadi. Sebab Dzat-Nya berada
diluar unsur alam semesta, manusia dan kehidupan. Jadi Ia berada diluar
jangkauan kemampuan akal. Padahal akal itu sendiri tidak mungkin memahami
hakekat apa yang berada diluar jangkauannya, disebabkan keterbatasannya untuk
dapat melakukan hal itu. Bahkan keterbatasan itu, menjadi faktor penguat iman,
bukan malah menjadi penyebab keragu-raguan dan syak.
Sesungguhnya apabila iman kita kepada Allah SWT muncul
dari akal, pemahaman kita terhadap adanya Al-Kholiq pun akan menjadi sempurna
pula. Apabila perasaan hati (yang timbul dari fithrah-red.) yang
mengatakan adanya Allah dibarengi oleh akal maka perasaan
semacam ini akan tumbuh menjadi suatu keyakinan yang kokoh. Kesemuanya ini akan
memberikan pada diri kita suatu pemahaman yang sempurna serta perasaan yang
yakin atas semua sifat-sifat ketuhanan. Dengan sendirinya hal ini akan
meyakinkan diri kita bahwa kita tidak akan sanggup memahami hakekat Dzat Allah,
justru karena kuatnya iman kita kepada-Nya. Selain itu hal ini juga meyakinkan
kita bahwa kita wajib mempercayai segala
apa yang dikabarkan Allah tentang hal-hal yang tidak sanggup dicerna oleh akal
atau dipahaminya. Hal ini disebabkan oleh lemahnya akal manusia untuk memahami
apa yang ada diluar jangkauannya dengan menggunakan ukuran-ukuran nisbi yang
serba terbatas kemampuannya. Padahal untuk memahami hal semacam ini diperlukan
ukuran-ukuran yang tidak nisbi dan tidak terbatas, yang justru tidak dimiliki
oleh manusia. Bahkan tidak mampu untuk dimiliki.
Kebutuhan Manusia Terhadap Rasul
Adapun bukti mengenai kebutuhan manusia terhadap para
rasul dapat kita lihat dari terbuktinya manusia sebagai makhluk Allah SWT yang
bersifat terbatas, akal dan kemampuannya. Juga dapat dilihat dari terbuktinya
agama itu sebagai suatu hal yang fitri dalam diri manusia, karena ia merupakan
salah satu fitrah pen-taqdis-an
(pengagungan dan pensucian-red.) manusia. Dalam fitrahnya itu manusia
senantiasa mentaqdiskan Penciptanya. Pekerjaan mentaqdiskan inilah yang
selanjutnya dikenal sebagai ibadah, yang
merupakan tali penghubung antara manusia dan Penciptanya. Apabila hubungan ini
dibiarkan sendiri tanpa aturan akan cenderung terjadi kekacauan ibadah serta
menyebabkan terjadinya penyembahan terhadap selain dari pencipta yang
sebenarnya. Jadi harus ada aturan tertentu yang mengatur hubungan ini dengan
baik. Hanya saja aturan ini tidak boleh datang dari pihak manusia, karena ia
sendiri tidak mampu memahami hakekat Khaliq (maksudnya tentang perbuatannya,
apakah perbuatan itu diterima atau ditolak oleh Khaliq-red.) untuk dapat
meletakkan aturan antara dirinya dengan Sang Pencipta. Oleh karena itu aturan
ini harus datang dari Khaliq. Karenanya aturan ini harus sampai ke tangan
manusia, maka tidak boleh tidak harus ada para rasul yang menyampaikan agama Allah ini kepada umat
manusia.
Bukti lain akan kebutuhan manusia terhadap para rasul
adalah bahwa pemuasan manusia akan tuntutan kebutuhan-kebutuhan jasmani dan
gharizah/ nalurinya merupakan hal yang
mutlak perlu. Pemuasan semacam ini apabila dibiarkan berjalan tanpa suatu
aturan akan menjurus ke arah pemuasan yang salah dan berlebihan serta akan
menyebabkan malapetaka terhadap umat manusia. Oleh karena itu harus ada aturan
yang mengatur gharizah dan kebutuhan-kebutuhan jasmani ini. Hanya saja aturan
ini tidak boleh datang dari pihak manusia, sebab pemahamannya dalam mengatur
gharizah dan kebutuhan-kebutuhan jasmani senantiasa menjadi obyek (sasaran)
kekeliruan, perselisihan dan keterpengaruhan oleh lingkungan yang didiaminya.
Apabila ia dibiarkan membuat aturan sendiri, maka aturan yang ia buat pun
menjadi subyek kekeliruan, perselisihan, dan pertentangan yang akan
menjerumuskan manusia ke dalam kenestapaan. Maka dari itu aturan tersebut harus
datang dari Allah SWT, yang untuk dapat sampai ke tangan manusia, haruslah
melalui seorang rasul.
Bukti Al-Quran Kalamullah
Adapun bukti -yang sangat mudah- bahwa Al-Qur'an itu
datang dari Allah dapat dilihat dari kenyataan/fakta bahwa Al-Qur'an itu sebuah
kitab berbahasa Arab yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Karena fakta tersebut,
maka dalam upaya menentukan 'dari mana' asal Al-Qur'an itu, dapat kita jumpai
adanya tiga kemungkinan. Pertama, ia
merupakan karangan bangsa Arab. Kedua, ia merupakan karangan Muhammad
SAW. Ketiga, ia berasal dari Allah
semata, sebagaimana pernyataan pembawanya. Tidak ada kemungkinan lain selain
dari yang ketiga ini. Sebab Al-Qur'an adalah khas Arab, baik dari segi bahasa
maupun sastranya.
Kemungkinan yang
pertama, yang mengatakan bahwa Al-Qur'an merupakan karangan bangsa Arab
adalah suatu kemungkinan yang bathil. Sebab Al-Qur'an sendiri telah menantang
mereka (bangsa Arab) untuk membuat karya yang serupa. Sebagaimana tertera dalam
ayat:
“Katakanlah: 'Maka datangkanlah sepuluh surat yang
menyamainya" (QS. Yunus 105)
"Katakanlah: Kalau benar yang kamu katakan maka cobalah
datangkan sebuah surat yang menyerupainya"
(QS Yunus 38)
Bangsa Arab telah berusaha untuk menghasilkan karya yang
serupa, akan tetapi mereka tidak juga berhasil. Jadi Al-Qur'an bukan berasal
dari perkataan mereka karena ketidakmampuan mereka untuk menghasilkan karya
yang serupa. Kendati ada tantangan dari Al-Qur'an dan usaha dari mereka untuk
membuat karya yang serupa.
Adapun kemungkinan yang
kedua, yang mengatakan bahwa Al-Qur'an itu karangan Muhammad SAW, adalah
kemungkinan yang bathil pula. Sebab Muhammad adalah orang Arab juga.
Bagaimanapun jeniusnya, tetaplah ia sebagai seorang manusia yang menjadi salah
satu anggota dari masyarakat atau bangsanya. Selama bangsa Arab tidak mampu
menghasilkan karya yang serupa, maka masuk akal pula apabila Muhammad SAW yang
orang Arab itu juga tidak mampu menghasilkan karya yang serupa. Jadi jelaslah
bahwasanya Al-Quran itu bukan
karangannya.
Hal tersebut makin diperkuat lagi dengan banyaknya
hadits-hadits shahih yang berasal dari Nabi Muhammad SAW, yang sebagian malah
diriwayatkan lewat cara tawatur yang kebenarannya tidak diragukan lagi. Apabila
setiap hadits ini dibandingkan dengan ayat manapun dalam Al-Qur'an maka tidak
akan dijumpai adanya kemiripan dari segi
gaya bahasa (uslub). Padahal Nabi Muhammad SAW disamping selalu
membacakan setiap ayat-ayat yang diterimanya, juga dalam waktu yang bersamaan
(selama bertahun-tahun) mengeluarkan hadits pula. Akan tetapi keduanya tetap
berbeda dari segi gaya bahasanya. Dan bagaimanapun kerasnya seseorang untuk
menciptakan berbagai macam gaya bahasa dalam pembicaraannya, tetap akan
terdapat kemiripan antara gaya bahasa yang satu dengan gaya bahasa yang lain.
Sebab hal ini merupakan bagian dari dirinya. Jadi karena tidak ada kemiripan
antara gaya bahasa Al-Qur'an dengan gaya bahasa hadits maka yakinlah bahwa
Al-Qur'an itu bukan perkataan Nabi Muhammad SAW, disebabkan terdapat perbedaan
yang tegas dan jelas antara keduanya. Oleh karena tidak seorang pun dari orang
Arab yang bisa menuduh bahwa Al-Qur'an itu perkatan Muhammad atau mirip dengan
gaya bahasa pembicaraannya, justru karena mereka memiliki pemahaman yang begitu
dalam akan gaya bahasa mereka sendiri.
Maka terbantahlah kemungkinan pertama dan kedua.
Tinggallah kini tuduhan lain yang mereka lontarkan, yaitu bahwa Al-Qur'an itu
disadur oleh Muhammad SAW dari seorang pemuda Nasrani bernama Jabr.
Tuduhan ini ditolak keras oleh Allah SWT melalui firmanNya:
"(Dan) Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata,
'Sesungguhnya Al-Qur'an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya
(Muhammad). Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar
kepadanya (adalah) bahasa 'ajami (non Arab), sedangkan Al-Qur'an itu dalam
bahasa Arab yang jelas" (QS An-Nahl 103)
Apabila kini telah terbukti bahwa Al-Qur'an itu bukan
karangan bangsa Arab, dan bukan pula karangan Muhammad SAW, maka yakinlah bahwa
Al-Qur'an itu merupakan perkataan Allah
(kalam Allah) yang menjadi mukjizat bagi orang yang membawanya (yaitu Muhammad
SAW-pen). Tidak ada kemungkinan lain selain ini, dilihat dari kenyataan bahwa
Al-Quran itu berbahasa Arab.
Karena Nabi Muhammad orang yang membawa Al-Qur'an yang
merupakan perkataan dan syariat, sedangkan tidak ada yang membawa syariat-Nya
melainkan para Nabi dan Rasul, maka berdasarkan akal dapat diyakini bahwa
Muhammad SAW itu seorang Nabi dan Rasul.
Demikian uraian-uraian singkat namun jelas dan tegas
tentang dalil aqli untuk beriman kepada
(wujudnya) Allah, kepada kebenaran kerasulan Muhammad SAW dan kepada Al-Qur'an,
bahwasanya Al-Qur'an itu merupakan kalam Allah.
Konsekuensi Iman Kepada Allah,
Rasulullah SAW, dan Al-Quran
Jadi iman kepada (wujud) Allah itu datang dari akal, dan
memang harus datang dari jalan seperti ini. Ini pula yang menjadi dasar kuat
untuk beriman terhadap hal-hal ghaib dan segala hal yang dikabarkan oleh Allah
SWT. Sebab jika kita telah beriman kepada Allah SWT, yang memiliki sifat-sifat
Ketuhanan itu, maka wajib pula bagi kita untuk beriman terhadap apa saja yang
dikabarkan oleh-Nya. Baik hal itu dapat dicerna oleh akal maupun tidak, karena
semua itu dikabarkan oleh Allah SWT.
Dari sini kita wajib beriman kepada hari kebangkitan dan
pengumpulan (Ba'ats), surga dan
neraka, hisab dan siksa, juga beriman akan adanya malaikat, jin dan syaithan,
serta apa saja yang telah diterangkan Al-Qur'an dan hadits
muttawatir. Iman seperti ini walaupun didapat dengan jalan 'mengutip' (naql) dan 'mendengar' (sama'), akan tetapi pada dasarnya telah
terbukti oleh akal. Jadi aqidah seorang muslim itu harus bersandar kepada akal
atau pada sesuatu yang telah terbukti dasarnya oleh akal. Karena seorang muslim
wajib mengi'tiqadkan segala sesuatu yang telah terbukti dengan akal atau yang
datang dari sumber berita yang yakin dan pasti (qath'i). Yaitu yang telah
ditetapkan oleh Al-Qur'an dan hadits qath'i (hadits mutawatir). Apa saja yang
tidak terbukti oleh kedua jalan tadi, yaitu akal serta nash Al-Qur'an dan
hadits qath'i (mutawatir), haram baginya untuk mengi'tiqadkannya. Sebab, aqidah
tidak boleh diambil kecuali dengan kepastian (keyakinan).
Oleh karena itu kita wajib beriman kepada kehidupan
sebelum dunia, yaitu adanya Allah SWT dan proses penciptaan oleh-Nya; serta
beriman kepada kehidupan setelah dunia
yaitu hari akhirat. Perintah-perintah Allah itu merupakan tali penghubung (silah) antara kehidupan dunia dengan
kehidupan sebelum dunia, yaitu hubungan penciptaan (shilatul khalq); sekaligus menjadi tali penghubung kehidupan dunia
dengan kehidupan sesudah dunia (shilatul
muhasabah). Dan pastilah hal ikhwal manusia terikat oleh tali penghubung
ini. Karenanya manusia wajib berjalan dalam kehidupan ini sesuai dengan
peraturan Allah dan wajib beri'tiqad bahwa ia diciptakan oleh Allah, dan akan dihisab di hari kiamat
atas segala perbuatannya di dunia.
Dengan demikian telah terbentuklah pemikiran yang jernih
tentang apa yang ada di balik kehidupan, alam semesta dan manusia. Serta telah
terbentuk pula pemikiran yang jernih tentang alam sebelum dan alam sesudah
dunia. Dan bahwasanya terdapat 'tali penghubung' antara dunia dengan kedua alam
tersebut. Dengan demikian telah terurailah 'masalah besar' itu
secara pasti kebenarannya dengan
aqidah Islamiyah.
Apabila manusia telah berhasil memecahkan hal tadi ia
dapat beralih memikirkan kehidupan dunia serta mewujudkan mafahim yang benar
(terhadap dunia), yang dihasilkan dari pemikiran dasar tersebut. Pemecahan itu
pula yang menjadi dasar bagi berdirinya suatu prinsip ideologis kehidupan (mabda') yang membentuk jalan menuju
kebangkitan suatu kaum. Mabda itu pula yang akan menjadi dasar bagi tumbuh kembangnya peradaban (hadloroh) suatu kaum. Juga menjadi dasar
bagi peraturan-peraturan hidupnya, dan juga menjadi dasar untuk mendirikan
negaranya. Dengan demikian dasar bagi berdirinya Islam, baik secara fikroh (ide dasar) maupun thoriqah (pola operasional/metode
pelaksanaan) adalah aqidah Islam itu sendiri.
Allah SWT berfirman :
"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya dan kepada Kitab yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya dan
kepada Kitab yang diturunkan sebelumnya. Dan siapa saja yang mengingkari Allah
dan Malaikat-Nya dan Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya dan hari akhir maka ia
telah sesat sejauh-jauhnya kesesatan" (QS An-Nisa 136)
Apabila semua ini (Iman kepada Allah, dst. tadi) telah
terbukti kebenarannya, maka wajiblah bagi seluruh kaum muslimin untuk beriman
juga kepada Syariat Islam (sebagaimana ia beriman kepada Aqidah Islam). Karena
seluruh syariat ini telah tercantum dalam Al-Qur'an dan telah dibawa oleh
Rasulullah SAW. Apabila tidak beriman maka ia kufur. Oleh karena itu ingkarnya
seseorang terhadap hukum-hukum syara secara keseluruhan atau sebagian darinya
secara lebih terperinci, dapat menyebabkan ia menjadi kufur. Baik hukum-hukum
itu berkaitan dengan ibadat, muamalah, uqubat (sanksi), ataupun math'umat (yang berkaitan dengan
makanan). Maka kufur terhadap ayat:
"Dirikanlah shalat..".
sebenarnya sama saja kufur terhadap ayat "Padahal
Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba"(QS
Al-Baqarah 275). Atau terhadap ayat :"Laki-laki yang
mencuri dan perempuan
yang mencuri potonglah tangan
keduanya"(QS Al-Maidah 38). Atau ayat "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan
(daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah" (QS Al-Maidah
3)
Dengan demikian,
iman terhadap syari'at sebenarnya tidak berhenti pada akal semata, tetapi juga
harus ada penyerahan mutlak terhadap segala yang datang dari sisi-Nya,
sebagaimana firman Allah SWT:
"Maka demi Rabb-mu mereka itu (pada hakekatnya) tidak
beriman sebelum mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim (pemutus)
terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa di
hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka
menerima (pasrah) dengan sepenuhnya" (QS An-Nisa 65)
Kebangkitan Manusia
Bangkitnya
manusia tergantung dari pemikiran (fikrah-nya) tentang kehidupan, alam
semesta, dan manusia; serta hubungan
ketiganya ini dengan alam sebelum kehidupan dunia dan alam setelah kehidupan dunia. Oleh karena itu
harus ada perubahan yang mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia
dewasa ini. Kemudian diganti dengan dengan pemikiran lain agar ia bangkit.
Sebab pemikiranlah yang membentuk mafahim (pemahaman) terhadap segala sesuatu
serta memperkuatnya. Dan manusia mengatur tingkah lakunya di dalam kehidupan
ini sesuai dengan mafahimnya terhadap kehidupan. Sebagai contoh, mafahim
seseorang terhadap orang yang ia cintai akan membentuk tingkah laku tertentu
terhadapnya, yang berlawanan dengan tingkah lakunya terhadap orang yang ia
benci dimana ia akan memiliki mafahim kebencian terhadapnya. Dan akan
berlawanan pula terhadap orang yang tidak dikenalnya dimana ia tidak memiliki
mafhum apapun terhadapnya. Jadi tingkah laku manusia berkaitan erat dengan
mafahimnya. Oleh karena itu apabila kita hendak mengubah tingkah laku manusia
yang rendah menjadi yang luhur maka tidak boleh tidak kita harus mengubah
mafhumnya terlebih dahulu. AllAh SWT berfirman :
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah 'keadaan' suatu
kaum sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka"
(QS Ar-Ra'd : 11)
Satu-satunya jalan untuk mengubah mafahim adalah dengan
membentuk pemikiran tentang kehidupan dunia, agar dengannya dapat terwujud
mafahim yang benar tentang kehidupan dunia. Akan tetapi pemikiran tentang
kehidupan dunia ini tidak akan kuat terpusat hingga memberi hasil, kecuali jika
terbentuk pemikiran tentang alam semesta, manusia dan kehidupan; tentang alam
sebelum dan sesudah kehidupan dunia; dan tentang hubungan ketiga unsur tadi
dengan kedua alam ini. Hal ini dapat dicapai dengan menyampaikan (kepada
manusia-pen) pemikiran yang menyeluruh mengenai ketiga hal tersebut. Inilah
yang merupakan pemecah simpul dalam 'masalah besar' (Uqdatul Kubro ) dalam diri
manusia. Apabila masalah besar ini telah teruraikan, maka terurai pulalah
masalah yang lainnya, sebab hanya merupakan bagian atau cabang dari masalah
besar tadi. Namun pemecahan ini tidak akan mengantarkan kita kepada kebangkitan
yang benar kecuali apabila pemecahan itu sendiri juga merupakan pemecahan yang
benar. Yaitu pemecahan yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan
memberikan ketenangan hati.
Oleh karena itu bagi mereka yang menghendaki kebangkitan
dan kehidupan berada diatas jalan yang mulia harus terlebih dahulu memecahkan
masalah besar ini dengan pemecahan yang benar, yaitu melalui pemikiran yang
jernih. Pemecahan inilah yang dinamakan 'aqidah', yang merupakan landasan
berfikir bagi setiap pemikiran cabang yang berhubungan dengan perilaku serta
tata aturan dalam kehidupan.
Islam telah menangani 'masalah besar' ini. Dipecahkannya
untuk manusia dengan pemecahan yang sesuai dengan fitrah, memuaskan akal serta
memberikan ketenangan jiwa. Dan ditetapkan pula bahwasanya untuk memeluk agama
Islam itu tergantung sepenuhnya pada pengakuan terhadap pemecahan ini. Yaitu
dengan pengakuan yang betul-betul muncul dari akal. Oleh sebab itu Islam
dibangun diatas satu dasar, yaitu aqidah, yang mengatakan bahwasanya dibalik
alam semesta, manusia dan kehidupan terdapat Pencipta (Khaliq) yang telah
menciptakan ketiganya, dan yang telah menciptakan pula segala sesuatu yang
lainnya. Dialah Allah SWT. Aqidah yang mengatakan bahwasanya Pencipta ini telah
menciptakan segala sesuatu dari tidak ada. Ia bersifat wajibul wujud (wajib
adanya) -karena kalau tidak demikian maka ia tidak mampu menjadi Khaliq-, Ia
bukan makhluk, karena sifat-Nya sebagai Pencipta memastikan bahwa diri-Nya
bukan makhluk, serta memastikan pula bahwa Ia mutlak adanya. Karena segala
sesuatu menyandarkan wujudnya kepada diri-Nya, sedangkan Ia tidak bersandar
kepada sesuatu apapun.o
Pengertian Aqidah, Iman
dan Dalil-dalilnya
Aqidah Islamiyah adalah iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya,
hari akhir, kepada qadla dan qadar baik-buruk keduanya dari Allah. Sedangkan makna iman itu sendiri adalah pembenaran yang bersifat pasti (tashdiiqul
jazm), yang sesuai dengan kenyataan, yang muncul dari adanya dalil/bukti. Bersifat pasti artinya seratus persen
kebenaran/keyakinannya tanpa ada keraguan sedikitpun. Sesuai dengan fakta
artinya hal yang diimani tersebut memang benar adanya dan sesuai dengan
fakta, bukan diada-adakan (mis.
keberadaan Allah, kebenaran Quran, wujud malaikat dll). Muncul dari suatu dalil
artinya keimanan tersebut memiliki hujjah/dalil tertentu, tanpa dalil
sebenarnya tidak akan ada pembenaran yang bersifat pasti .
Suatu dalil untuk masalah iman, ada kalanya bersifat aqli
dan atau naqli, tergantung perkara yang
diimani. Jika perkara itu masih dalam
jangkauan panca indra/aqal, maka dalil keimanannya bersifat aqli, tetapi jika
tidak (yaitu di luar jangkauan panca indra), maka ia didasarkan pada dalil
naqli. Hanya saja perlu diingat bahwa penentuan sumber suatu dalil naqli juga
ditetapkan dengan jalan aqli. Artinya,
penentuan sumber dalil naqli tersebut dilakukan melalui penyelidikan untuk menentukan
mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dijadikan sebagai sumber dalil
naqli. Oleh karena itu, semua dalil
tentang aqidah pada dasarnya disandarkan pada metode aqliyah. Dalam hal ini, Imam Syafi'i berkata:
"Ketahuilah bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf
adalah berfikir dan mencari dalil untuk ma'rifat kepada Allah Ta'ala. Arti berfikir adalah melakukan penalaran dan
perenungan kalbu dalam kondisi orang yang berfikir tersebut dituntut untuk ma'rifat
kepada Allah. Dengan cara seperti itu, ia bisa sampai kepada ma'rifat terhadap
hal-hal yang ghaib dari pengamatannya dengan indra dan ini merupakan suatu keharusan. Hal ini
seperti merupakan suatu kewajiban dalam bidang ushuluddin."
(Lihat Fiqhul Akbar, Imam
Syafi'i hal. 16)
Peranan Akal dalam Masalah Keimanan
Akal manusia mampu membuktikan keberadaan sesuatu hal
yang berada di luar jangkauannya, jika ada sesuatu yang dapat dijadikan
petunjuk atas keberadaan hal tersebut, seperti perkataan seorang Baduy (orang
awam) tatkala ditanyakan kepadanya "Dengan
apa engkau mengenal Rabbmu?" Jawabnya : "Tahi onta itu menunjukkan
adanya onta dan bekas tapak kaki menunjukkan pernah ada orang yang
berjalan."
Oleh karena itu, ayat-ayat Al Qur'an adalah bukti
eksistensi Allah (tentang adanya Sang Pencipta) dengan cara mengajak manusia
memperhatikan makhluk-makhluk-Nya.
Sebab, kalau akal diajak untuk mencari Dzat-Nya, maka tentu saja akal
tidak mampu menjangkaunya, seperti firman-Nya:
"Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat
tanda-tanda kekuasaan Allah untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan
kamu dan pada binatang-binatang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat
tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang meyakini."
(Al-Jaatsiyat 3-4).
Karena keterbatasan akal dalam berfikir, Islam melarang
manusia untuk berfikir langsung tentang Dzat Allah, karena Dzat Allah sudah
berada diluar kemampuan akal untuk menjangkaunya. Selain itu juga karena manusia mempunyai
kecenderungan (bila ia hanya menduga-duga tanpa memiliki acuan kepastian)
menyerupakan Allah SWT dengan suatu makhluk.
Dalam hal ini Rasulullah bersabda :
"Berfikirlah kamu tentang makhluk Allah tetapi jangan kamu
fikirkan tentang Dzat Allah. Sebab, kamu tidak akan sanggup mengira- ngira
tentang hakikatnya yang sebenarnya." (HR. Abu Nu'im
dalam Al-Hidayah, sifatnya marfu', sanadnya dhoif tetapi isinya shoheh)
Akal manusia yang terbatas tidak akan mampu membuat
khayalan tentang Dzat Allah yang sebenarnya; bagaimana Allah melihat,
mendengar, berbicara, bersemayam di atas Arsy-Nya, dan seterusnya. Sebab, Dzat Allah bukanlah materi yang bisa
diukur atau dianalisa. Ia tidak dapat
dikiaskan dengan materi apapun, semisal manusia, makhluk aneh berkepala dua,
bertangan sepuluh, dan sebagainya.
Kita hanya percaya dengan sifat-sifat Allah yang
dikabarkan-Nya melalui Al-Wahyu. Apabila kita menghadapi suatu ayat/hadits yang
menceritakan tentang menyerupakan Allah dengan makhluk, maka kita tidak boleh
mencoba-coba membahas ayat-ayat/hadits tersebut dan menta'wilkannya sesuai
dengan kemampuan akal kita. Ia lebih
baik kita serahkan kepada Allah, karena ia memang berada di luar kemampuan
akal. Itulah yang dilakukan oleh para
sahabat, tabi'in, dan ulama salaf. Imam Ibnul Qoyyim berkata:
"Para sahabat berbeda pendapat dalam beberapa masalah.
Padahal mereka itu adalah ummat yang dijamin sempurna imannya. Tetapi alhamdulillah, mereka tidak pernah
terlibat bertentangan faham satu sama lainnya dalam menghadapi asma Allah,
perbuatan-perbuatan Allah, dan sifat-sifat-Nya.
Mereka menetapkan apa yang diutarakan Al-Qur'an dengan suara bulat.
Mereka tidak menta'wilkannya, juga tidak memalingkan pengertiannya."(Lihat
buku I'llamul Muwaaqi'in, jilid 1,
halaman 5.)
Ketika kepada Imam Malik ditanyakan tentang makna "persemayaman-Nya" (istiwaa'), beliau lama tertunduk dan
bahkan mengeluarkan keringat. Setelah
itu Imam Malik mengangkat kepala lalu berkata :
"Persemayaman itu bukan sesuatu yang dapat diketahui. Juga kaifiyah (cara)nya bukanlah hal yang
dapat difahamkan. Sedangkan mengimaninya
adalah wajib, tetapi menanyakan hal tersebut adalah bid'ah/ salah."(Lihat
Fathul Baari, jilid XII, halaman
915).
Jalan ini pula yang ditempuh Asy-Syafi'i, Muhammad Abdul Hasan
Asy-Syaibani, Ahmad bin Hambal, dan lain-lain.
Kerusakan Aqidah Umat Islam Akibat Filsafat Yunani
Sebagian para ulama khalaf (ulama Mutaakhirin), terutama
ahli ilmu kalam (Mutakallimin) tidak menjalani cara yang ditempuh oleh ulama
salaf. Mereka tidak puas dengan cara berpikir demikian. Oleh karena itu, mereka
lalu menta'wilkan suatu Al-Wahyu yang termasuk mutasyabihat (tidak dijelaskan
rinci oleh Allah dan Rasul-Nya, a.l. tentang sifat dan perbuatan Allah SWT),
sesuai dengan kehendak akal, padahal semua itu berada diluar kemampuan akal.
Mereka menggunakan dalil aqli dengan dasar mantiqi/logika untuk membahas
hal-hal seperti bergeraknya Allah, turunnya Allah ke langit, hubungan antara
sifat dengan Dzat Allah, dan lain-lain.
Meskipun ulama khalaf menempuh jalan yang tidak sesuai
dengan apa yang telah diturunkan Al-Quran, tetapi sebenarnya mereka masih tetap
beriman kepada Islam dan tetap bertolak dari dalil-dalil syar'iy. Berbeda
halnya dengan jalan yang ditempuh oleh kaum muslimin yang memandang filsafat
Yunani sebagai tolak ukur/titik tolak aqidah.
Mereka telah mencoba menggunakan akal untuk memecahkan persoalan yang
pernah dialami oleh para filosof Yunani terdahulu, tanpa kembali pada ketentuan
Al-Wahyu dan contoh dari Rasulullah SAW. Mulailah mereka melontarkan kembali
masalah-masalah klasik, seperti wihdatul-wujud
dll. Pendapat-pendapat mereka (ahli kalam dan filosof) inilah yang telah
meragukan umat terhadap beberapa hal yang berkaitan dengan masalah aqidah,
bahkan berhasil pula menyesatkan dan mengeluarkan sebagian kaum muslimin dari
Islam. Oleh karena itu aqidah Islam perlu dijauhkan dari ilmu mantik atau
filsafat agar tidak membahayakan aqidah ummat. Sumber aqidah hanyalah Al-Qur'an
dan hadits-hadits mutawatir. Metode yang digunakan adalah metode aqliyah
(melalui pemahaman terhadap dalil aqli dan naqli) sebagaimana yang dicontohkan
oleh Rasulullah SAW, jauh sebelum
umat Islam bertemu dengan ahli
filsafat (Yunani) dan ajaran-ajarannya.o
ILMU ALLAH
Allah swt. telah menciptakan langit dan bumi dengan segala isi dan
peristiwa yang terkandung di dalamnya merupakan fenomena yang sangat
mengesankan dan menakjubkan akal serta hati sanubari manusia.
Itulah alam semesta atau al-kaun (universum). Simaklah firman Allah swt. berikut ini:
“Dia lah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa,
yang mempunyai nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang
ada di langit dan di bumi. Dan Dia lah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” (QS. Al-Hasyr: 24).
Hendaknya manusia senantiasa
mentaddaburi ayat-ayat-Nya, baik yang qauliyah maupun kauniyah. Karena
di sana terdapat lautan ilmu-Nya, serta dorongan untuk mengkaji maupun
mengimplementasikannya.
“Hai jama’ah jin dan manusia jika kamu
sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah,
kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.” (QS. Ar-Rahman:
33).
Dengan ayat ini manusia akan mengerti jika ingin
menembus langit diperlukan energi yang besar. Maka dengan segala
bahan-bahan yang ada di alam ini manusia harus mampu mengkonversi energi
tersebut.
Masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan
dengan ilmu pengetahuan dan cabang-cabangnya. Allah swt. telah
menciptakan alam beserta isi dan sistemnya dan juga telah mengajarkannya
kepada manusia. Dengan mencermati Al-Qur’an, akan melahirkan
kajian-kajian yang lebih detail tentang keberadaan ciptaan-Nya.
Timbulnya ilmu pengetahuan disebabkan kebutuhan-kebutuhan manusia yang
berkemauan hidup bahagia. Dalam mencapai dan memenuhi kebutuhan hidupnya
itu, manusia menggunakan akal pikirannya. Mereka menengadah ke langit,
memandang alam sekitarnya dan melihat dirinya sendiri. Dalam hal ini
memang telah menjadi qudrat dan iradat Nya, bahwa manusia dapat
memikirkan sesuatu kebutuhan hidupnya. Telah tercantum dalam Al-Qur’an
perintah Allah swt.:
“Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada
di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan
Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak
beriman.” (QS. Yunus: 101).
Hasil dari pemikiran manusia itu
melahirkan ilmu pengetahuan dengan berbagai cabangnya. Maka ilmu
pengetahuan bukanlah musuh atau lawan dari iman, melainkan sebagai
wasailul hayah (sarana kehidupan) dan juga nantinya yang akan membimbing
ke arah iman.
Sebagaimana kita ketahui, banyak ahli ilmu
pengetahuan yang berpikir dalam, telah dipimpin oleh pengetahuannya
kepada suatu pandangan, bahwa di balik alam yang nyata ini ada kekuatan
yang lebih tinggi, yang mengatur dan menyusunnya, memelihara segala
sesuatu dengan ukuran dan perhitungan.
Herbert Spencer dalam
tulisannya tentang pendidikan, menerangkan sebagai berikut: “Pengetahuan
itu berlawanan dengan khurafat, tetapi tidak berlawanan dengan agama.
Dalam kebanyakan ilmu alam kedapatan paham tidak bertuhan (atheisme),
tetapi pengetahuan yang sehat dan mendalami kenyataan, bebas dari paham
yang demikian itu. Ilmu alam tidak bertentangan dengan agama.
Mempelajari ilmu itu merupakan ibadat secara diam, dan pengakuan yang
membisu tentang keindahan sesuatu yang kita selidiki dan kita pelajari,
dan selanjutnya pengakuan tentang kekuasaan Penciptanya.
Mempelajari ilmu alam itu tasbih (memuji Tuhan) tapi bukan berupa
ucapan, melainkan tasbih berupa amal dan menolong bekerja. Pengetahuan
ini bukan mengatakan mustahil akan memperoleh sebab yang pertama, yaitu
Allah.”
“Seorang ahli pengetahuan yang melihat setitik air,
lalu dia mengetahuinya bahwa air itu tersusun dari oksigen dan hidrogen,
dengan perbandingan tertentu, dan kalau sekiranya perbandingan itu
berubah, niscaya air itu akan berubah pula menjadi sesuatu yang bukan
air. Maka dengan itu ia akan meyakini kebesaran Pencipta, kekuasaan dan
kebijaksanaan-Nya. Sebaliknya orang yang bukan ahli dalam ilmu alam,
akan melihatnya tidak lebih dari setitik air.”
Manusia sejak
zaman dahulu telah mengerahkan daya akal untuk menyelidiki rahasia serta
mencari hubungannya dengan kebutuhan dan tujuan hidupnya di atas bumi
ini. Maka lahirlah para ahli ilmu alam seperti astronom, meteorolog,
geolog, fisikawan, dan sebagainya, beserta para ahli filsafatnya di
bidang tersebut.
Khilafah Rasyidah - The New World Order: Biografi Syaikh TAQIYUDDIN AN-NABHANI PENDIRI HIZB...
0 komentar Diposting oleh Unknown di 00.32Khilafah Rasyidah - The New World Order: Biografi Syaikh TAQIYUDDIN AN-NABHANI PENDIRI HIZB...: Biografi Syaikh TAQIYUDDIN AN-NABHANI PENDIRI HIZBUT TAHRIR Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah seorang âlim allâmah (berilmu dan sangat ...
Etika Dakwah Dunia Maya (2): Etika Posting dan Bersikap
Posted by felixsiauw on Jun 23, 2012
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa internet adalah termasuk media tercepat dan termurah untuk menyebarkan informasi. Dalam satu kali klik, seluruh indonesia dapat mengakses informasi yang kita berikan. Dan hal ini tentu saja menimbulkan dua kemungkinan, yaitu menjadi potensi yang sangat baik atau menjadi potensi yang sangat buruk. Oleh karena itu, ada beberapa rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam memanfaatkan internet sebagai sarana penyebaran informasi.
1. Hendaknya informasi yang kita kirimkan adalah yang benar, dibutuhkan dan untuk umum
Ada banyak informasi yang ada disekeliling kita, sebagian informasi tersebut ada yang benar, meragukan atau salah sama sekali. Seorang yang mendakwahkan Islam harusnya memberikan informasi ketika dia telah memastikan kebenaran informasi ini, dan tidak menyampaikan informasi yang belum jelas kebenarannya sehingga akan mengundang mudharat. Bila perlu, ia mencantumkan sumber dan link yang bisa dibuka untuk informasi-informasi yang sensitif. Sehingga dengan adanya hal seperti ini kita terhindar daripada fitnah dan menggunjing, serta merugikan orang/kelompok lain. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (QS al-Hujuraat [49]: 6)
Setelah kita memastikan kebenaran berita itu, maka hal yang harus kita pikirkan adalah “apakah informasi ini dibutuhkan?”. Karena ada informasi yang tidak dibutuhkan tetapi terkadang tetap diposting dan disampaikan. Hal seperti ini akan membuang waktu dan bisa jadi menyulut masalah yang lain. Di facebook sering kita lihat sindrom semacam ini, seolah-olah update status menjadi sesuatu yang wajib.
“Lagi melihat matahari terbit..”, lalu 5 menit lagi “Tidur lagi ah..”, terus 1 jam berikutnya “saatnya pergi ke kampus”, 30 menit lagi “ada pengemis di jalan, kesian banget deh..”, nggak lama kemudian “BRB, pergi ke neraka dulu..”. Ada juga yang sibuk mengirimkan ucapan selamat, hug, smile, kiss, love yang nggak penting seperti “Please accept this smile — I got it just for you!”, atau “I got you a special ♥heart!” dan lain-lain
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَاسَمِعَ
Cukuplah bagi seseorang berbuat dosa dengan menceritakan setiap apa yang didengarnya (HR. Muslim)
Selanjutnya, kita juga harus membedakan informasi mana yang hanya menjadi konsumsi internal dan informasi mana yang boleh menjadi konsumsi publik. Kehati-hatian seharusnya menjadi asas seseorang dalam menyampaikan informasi. Karena apabila informasi yang seharusnya menjadi konsumsi internal ternyata bisa diakses juga oleh publik, maka ini menjadi sesuatu yang sangat merugikan, bahkan sampai kepada tingkatan haram untuk menyebarkan informasi yang seharusnya tidak boleh disebarkan.
Kisah Hatib bin Abi Balta’ah dapat kita jadikan contoh. Ketika Rasulullah memerintahkan kaum muslim untuk merahasiakan tentang rencana futuh makkah. Hatib yang tidak memiliki saudara yang dapat melindungi harta dan kerabatnya akhirnya tergoda untuk menuliskan surat (menyampaikan informasi) yang harusnya tidak disampaikannya. Walaupun akhirnya Allah dan Rasulullah memaafkan tindakan Hatib yang lalai, tetap saja rasulullah memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk mencegat perempuan yang membawa surat Hatib kepada penguasa makkah agar jangan sampai rahasia itu jatuh kepada orang yang tidak berhak mengetahuinya.
Rasulullah juga menyampaikan:
إِذَا حَدَّثَ الَّرجُلُ بِاْلحَدِيْثِ ثُمَّ اْلتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ
“Bilamana seorang membicarakan sesuatu kemudian dia menoleh kepadanya maka itu adalah amanah (HR. Abu Dawud)
Dalam setiap gerakan dakwah, terdapat kerahasiaan dan kehati-hatian. Dan hal ini harus benar-benar dipahami oleh setiap orang yang berada di jalan dakwah. Maka setiap ummat muslim, khususnya pengemban dakwah harus membiasakan untuk menyampaikan informasi yang perlu-perlu saja. Hal-hal yang tidak perlu menjadi konsumsi publik tidak perlu di-posting. Dan segala sesuatu yang bersifat rahasia tetap harus dijaga. Karena kehati-hatian dan kewaspadaan lebih utama daripada terlanjur lalai.
2. Mengabarkan berita baik untuk berbagi kebahagiaan sah-sah saja tapi jangan berlebihan
Allah menyampaikan di dalam al-Qur’an:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur) (QS adh-Dhuhaa [93]: 11)
Artinya sah-sah saja seandainya kita mendapatkan nikmat atau kebahagiaan dari Allah lantas kita menyampaikannya dan menceritakannya dengan saudara-saudara kita dengan harapan mereka juga akan termotivasi dan bersyukur pada Allah atas nikmat-nikmat yang juga mereka terima.
Tapi kita harus mengingat, bahwa tidak semua nikmat yang kita rasakan dan kita dapatkan harus kita ceritakan dan pampang atau kita posting. Maksudnya adalah kita hanya mem-posting yang perlu-perlu saja. Tidak semua hal harus kita posting, berusahalah untuk memposting sesuatu yang akan menginspirasi-memotivasi dan membagikan semangat, jangan terlalu berlebihan.
وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَّي وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مِجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُوْنَ
“Dan sesungguhnya orang yang paling aku dibenci dari kalian dan paling jauh dariku di hari kiamat adalah orang yang banyak bicara (HR. Tirmidzi)
3. Menghindari menyebarkan berita yang mengundang mudharat
Yang paling banyak kita temukan dalam posting di dunia maya adalah orang dengan niat yang baik dalam memberikan informasi, namun dia tidak sadar bahwa perbuatannya itu malah mengundang mudharat. Misalnya dengan posting:
“Teman-teman sekalian, ada situs yang sangat menghina Islam disini: www.linknya-dipaste-lagi.com, kita harus mengambil langkah terhadap penghinaan ini!”.
atau yang begini:
“Jaman sekarang ancur banget, ada film yang judulnya –JUDULNYA DISEBUTIN LAGI- yang isinya banyak banget tentang pornografi dan pornoaksi. Ada adegan dewasa euy disitu. Dunia semakin parah deh”
Oklah, mungkin yang nge-pos berniat untuk memberikan informasi, tapi tanpa sadar informasi yang dia sampaikan malah termasuk menyebarkan fitnah itu sendiri, dan semakin banyak orang yang akhirnya mengakses situs tersebut, lalu menyebarkannya kembali dan seterusnya. Apa hasilnya?. Hasilnya sang pembuat situs tadi senang gembira melihat jumlah visitornya yang melangit, lengkap dengan cacian yang paling seram yang bisa dilakukan manusia disitu yang semakin membuatnya punya alasan untuk membenci Islam dan menyudutkan Islam.
Kita harus ingat bahwa memberitahu seseorang tentang sesuatu yang buruk bukan dengan mencontohkannya.
Masalahnya, banyak orang yang awalnya tidak mengetahui malah jadi mengetahui dan mengakses situs-situs yang harusnya tidak boleh diakses. Walaupun mungkin ada manfaat ketika kita menyebarkan informasi semacam ini, tapi tetap saja menolak mafsadat lebih utama dari mendapat manfaat. Sesuai kaidah yang berbunyi:
إَنَّ دَفْعَ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ
Sesungguhnya, menghindari kerusakan, harus didahulukan dibanding mengambil manfaat.”
Jadi, ketika kita menemukan situs penghinaan terhadap Islam, informasi yang mengundang mudharat atau semacamnya, lebih baik kita lansgung tutup dan jangan pernah kembali. Tidak perlu membesar-besarkan dan menyebarkannya. Karena justru itu yang diinginkan pembuatnya. Toh hal yang semacam ini akan terus ada kapapnpun internet ada.
Kalau anda memiliki kekuasaan ataupun koneksi kepada orang yang bisa menghentikan, maka cukuplah informasi ini diberikan padanya saja dan tidak selain dia. Semua ini untuk menjaga agar fitnah tidak tersebar kemana-mana.
4. Tidak berlebih-lebihan dalam memberikan informasi
Seringkali kita menemukan banyak sekali hamilud dakwah yang justru ‘tebar pesona’ di setiap posting atau informasi yang dia berikan. Membuat postingnya seolah-olah terlihat ‘keren’, atau sesuatu yang diluar atau bukan kapasitasnya agar banyak comment yang mampir dan mengaguminya.
إن من أحبكم إلي وأقربكم مني مجلسا يوم القيامة أحاسنكم أخلاقا , وإن أبغضكم إلي وأبعدكم مني مجلسا يوم القيامة الثرثارون والمتشدقون والمتفيهقون
Diantara orang yang aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku di hari kiamat adalah orang yang baik akhlaknya. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku di hari kiamat adalah ats-Tsartsarun (orang yang memaksakan diri untuk memperbanyak perkataan), al-Mutasyaddiqun (orang yang bicaranya kesana-kemari tanpa kehati-hatian) dan al-Mutafayqihun (orang yang sengaja memperluas cakupan pembicaraan dan membuka mulut mereka dalam pembicaraan tersebut serta memfasih-fasihkan/membagus-baguskan bahasanya dalam pembicaraan). (Muttafaq‘alaih)
Maka usahakan dalam setiap posting dan informasi yang kita berikan kita selalu berserah kepada Allah. Sama sekali tidak membuat-buat, atau membesar-besarkan perkataan, atau membuat sesuatu yang dibagus-baguskan. Kalaupun kita ingin memposting sesuatu yang menyemangati dan memprovokasi semangat, maka lakukan dengan hati-hati.
5. Tidak bersikap lemah, membuka aib diri sendiri ataupun orang lain dalam menyampaikan informasi
Saya rasa tulisan menyangkut masalah ini sudah banyak dibuat, begitu banyak tulisan yang bernada lebay, melo (melankolis) yang tidak seharusnya ditampilkan di posting. Ataupun posting yang membuka aib pribadi dan hal-hal privat yang harusnya tidak ada di ruang publik. Sehingga hal itu bisa mengundang fitnah kepadanya.
“sedang menunggu bidadari…”, “Malem jum’at enaknya ngapain ya?”, “aku menanti kedatangan dirinya..”, “siapakah dia yang selama ini aku rindukan..”, “aku tak mengerti siapakah aku saat ini”, “sedang mencoba merengkuh bulan”, “Cuma kamu yang terbaik buat aku..terima kasih kamu sudah sayang ama aku selama ini.. Mamah”, “Sudahlah…”, “Terimakasih Cinta….”, “Semua telah berakhir…” (terus terang saya suka ngakak lalu nangis kalo baca posting/status yang beginian)
Sedangkan Rasul telah memperingatkan kita untuk menjauhi fitnah:
إن السعيد لمن جنب الفتن
Sesungguhnya kebahagiaan bagi siapa saja yang menjauhi fitnah (HR. Abu Dawud)
Walhasil, atas semuanya itu kita dapat mengambil kesimpulan bahwa posisi kita sebagai hamilud dakwha telah membawa kita pada suatu kedudukan dan tanggung jawab yang lebih besar dan berat dibandingkan yang belum berkomitmen dalam dakwah. Setiap kata-kata, posting, informasi yang kita keluarkan akan diawasi dan dimonitor oleh semua pihak, baik yang suka ataupun yang tidak suka. Karena itu lebih berhati-hatilah dalam memilih informasi mana yang akan kita bagikan.
Dakwah memang sulit dan sudah sulit, jangan dibuat lebih sulit lagi. Refreshing boleh, bercanda boleh, asal jangan berlebihan dalam memanfaatkan dunia maya. Gunakan dunia maya sebagai wasilah untuk memperluas jangkauan dakwah. Bagikan semangat Anda pada yang lain dengan kontribusi apapun. Insya Allah semua yang kita lakukan di dunia maya termasuk kebaikan yang akan dicatat oleh Allah.
Wallahu a’lam bi ash-shawab
Akhukum Fillah,
Felix Siauw
follow @felixsiauw
Twitter Updates
- Mengawani Shifr main 'manuk nesu' | ternyata Shifr lebih 'nesu' dari manuknya | karena nggak bisa-bisa naik level hehe..4 hours ago
- @LeeyaSR hehehe... Tepat sekali :) | len kali tegor sekalian traktir ye hehe..4 hours ago
- jika ingin kaya dan banyak harta | baiknya jadi pengusaha bukan penguasa10 hours ago
- pengusaha yang 'pamer' harta itu menginspirasi | penguasa yang pamer harta itu menyakitkan hati10 hours ago
- doakan dia aja, kewajiban kita udah selesai >> "@MellysaArdi udh mnta maaf sm orang, tp orang itu ga pernah gubris"10 hours ago
- baca buku Habits >> "@dhenizaALfarisi kalo ngmong didepan lebh dari 10 orang suak gugup"10 hours ago
Islamic Inspirator, Ustadz Felix Siauw, Felix Siauw, Muhammad Al-Fatih 1453, MAF1453, Al-Fatih
Tags
al-jama'ah
beyond the inspiration
bom marriott dan ritz
cacat
cinta
dakwah
demokrasi
emansipasi
fatwa golput
fatwa mui
fear
felix
felix siauw
feminisme
gagalnya demokrasi
golput
HAMAS
Islam
Islam di Cina
israel kalah
kapitalisme
kartini
kemenangan palestina
kemenangan total
keruntuhan khilafah
ketakutan
khilafah
konsisten
love
memilih pemimpin
muslimah
muslim cina
muslim uighur
muslim xinjiang
palestina
pilpres 2009
serangan barat
seruan
tahun baru
takut Allah
teror bom
terorisme
waktu
wanita
zheng he
Langganan:
Postingan (Atom)






